Langsung ke konten

KOREAWIN 🍲 Mengapa Hidangan Korea Bisa Disertai Beragam Sajian Kecil? Banchan, nasi, dan lauk utama memiliki peran berbeda—mengenali susunannya membantu memahami bagaimana unsur-unsur itu hadir bersama di meja makan.

Susunan hidangan Korea lebih mudah dibaca sebagai beberapa peran yang hadir bersama, bukan satu piring yang berdiri sendiri. Dalam tata meja yang umum, nasi disediakan dalam mangkuk kecil untuk tiap orang, sup dalam mangkuk lebih lebar, dan banchan dalam beberapa mangkuk kecil; banchan biasa disantap bersama nasi dan sup atau kaldu [1].

Banchan adalah lauk pendamping, bukan satu jenis makanan

Banchan merujuk pada lauk-pauk pendamping, sehingga isinya dapat berupa beragam hidangan kecil. Salah satu contohnya adalah kimchi, yang dibuat dari sayuran seperti sawi, lobak, atau mentimun melalui fermentasi. Sumber menyebut setidaknya satu jenis kimchi disajikan sebagai banchan sepanjang tahun [1].

Karena itu, deretan mangkuk kecil tidak perlu dianggap sebagai deretan hidangan utama. Banchan menemani nasi dan sup, sementara ragamnya memberi lebih dari satu pilihan lauk dalam satu susunan makan [1].

Nasi, sup, dan banchan punya tempat berbeda

Perbedaan peran itu terlihat dari cara hidangan ditata. Nasi disajikan per orang, sedangkan sup atau hidangan berkuah menempati wadah tersendiri; jjigae atau sup lain juga dapat disajikan dalam panci besar di tengah meja untuk dinikmati bersama. Banchan berada dalam mangkuk-mangkuk kecil di sekitarnya [1].

Alat makannya pun mengikuti susunan tersebut: sendok digunakan untuk nasi dan sup, sedangkan sumpit digunakan untuk banchan [1]. Jadi, nasi menjadi bagian pokok per orang, sup hadir sebagai sajian berkuah, dan banchan melengkapi keduanya. Ketiganya tidak harus dipahami sebagai hidangan yang saling menggantikan.

"Lauk utama" bukan satu slot yang selalu sama

Istilah lauk utama bisa membantu menyebut hidangan yang menonjol dalam sebuah menu, tetapi tata meja umum yang dijelaskan di sini tidak menetapkan satu jenis lauk utama yang wajib selalu hadir. Yang tampak jelas ialah nasi, sup atau kaldu, serta banchan sebagai lauk pendamping [1]. Karena itu, lebih berguna membaca susunannya lewat peran tiap hidangan daripada mencari satu piring yang harus menjadi pusat setiap meja.

Jamuan istana memberi contoh susunan yang lebih formal

Hidangan istana Dinasti Joseon menunjukkan bahwa nasi dan sup dapat hadir bersama banyak sajian lain: sumber mencatat 12 jenis hidangan disajikan bersama keduanya, dan nasi dalam hidangan istana disebut sura [2]. Itu contoh khusus dari jamuan istana, bukan patokan jumlah sajian untuk setiap meja makan Korea. Namun, contoh tersebut memperjelas gagasan dasarnya: nasi, sup, dan hidangan pendamping dapat menempati peran masing-masing dalam satu susunan.

Sumber

  • [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Hidangan Korea. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=30016918&title=Hidangan_Korea (diakses 2026-10-03).
  • [2] Wikipedia bahasa Indonesia — Hidangan istana Dinasti Joseon. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=27509247&title=Hidangan_istana_Dinasti_Joseon (diakses 2026-10-03).